Kaderisasi ala Mbah Lah

November 30, 2006

Namanya Mbah Lah, salah seorang pembantu di tempat kosku saat ini. Dia datang dari desa, kalau nggak salah dari suatu daerah terpencil di kebumen. Mbah Lah sudah tua, mungkin umurnya sekitar 60-an lebih. Namun jangan bayangkan mbah Lah sebagai manula yang lamban kerjanya. Mbah Lah enegik lho, dengan tubuh kecilnya itu dia sangat cepat mengerjakan pekerjaan seperti nyapu, masak, dan lain-lain. Gerakannya sangat gesit meski sekedar berpindah koordinat dari nonton TV di ruang tengah, kemudian hinggap ke  ruang depan membuka pintu(kalau ada tamu atau anak kos pulang) lalu kembali ke dapur meneruskan prosesi masak memasaknya, lalu duduk lagi nonton TV. Semuanya dilakukan setengah berlari. :)

Awalnya sih wajar-wajar saja, namun lama kelamaan ada yang mengganjal juga ketika memperhatikan mbah Lah. Ada yang menarik. Meski sudah berumur, mbah Lah masih kelihatan kekanakan. Gerakannya ketika berjalan kadang lucu, mirip anak kecil yang sedang berjalan, menoleh kanan kiri sambil mengayun kaki seperti sedang berdendang. Mbah Lah suka tersipu-sipu ketika ngobrol dengan ibu kos. Entah karena dipuji atau dimarahi. Mirip aku dulu waktu SD ketika disuruh maju ke depan kelas, entah untuk bernyanyi atau dihukum karena menjahili teman sebangku. Kemarin, ketika ibu kos ngasih sesuatu untuk dibagi, pembantunya yang dua orang dipersilahkan untuk mengambil bagiannya masing-masing. Setelah beberapa lama, entah karena lupa, ibu kos kembali mempersilahkan pembantunya untuk mengambil lagi bagiannya. Hanya mbah Lah yang dengan antusias mengambil bagiannya lagi. Tak lama kemudian ibu kos sadar, sisa barangnya tak wajar, dan ketika mbah Lah ditanya, mulanya mbah Lah nggak ngaku, tapi kemudian senyam-senyum, tersipu-sipu, tertawa kecil, lalu mengaku ngambil dua kali sambil tertawa-tawa. Yang lucu, intonasi kata-katanya itu lho, ya ampun, mirip anak kecil. Begini kira-kira : "kan katanya…(terhenti agak lama, sambil senyam-senyum, salah satu kakinya bergerak-gerak ke belakang)…disuruh ngambil laaagiiii…"(dilanjutkan dengan tawa haha-hehe). Aku mungkin nggak sempurna menggambarkan tingkah mbah Lah saat itu, yang jelas, kejadian itu membuat mulutku tersenyum namun hatiku tercekat karena iba…

Entah jiwa apa yang terperangkap dalam tubuh renta mbah Lah. Aku hanya mengira-ngira mungkin mbah Lah tak pernah bisa menjadi dewasa atau menjadi orang tua sesungguhnya. Mungkin karena seumur hidup mbah Lah dipakai untuk mengabdi. Mbah lah tak sempat menjadi orang lain selain ‘pembantu’. Mbah Lah seperti menjalani kaderisasi seumur hidup dengan kewajiban dan wawasan sebagai pembantu,pembantu dan pembantu. Akibatnya, mbah Lah adalah orang dengan wawasan yang sama dengan mbah Lah sepuluh, duapuluh, bahkan limapuluh tahun yang lalu ketika mbah Lah benar-benar masih kanak-kanak dan sudah jadi pembantu. Mungkinkah?

Aku jadi teringat betapa militer sangatlah sukses dengan proses cuci otaknya dengan menerapkan sistem latihan dan menancapkan wawasan yang dianggap perlu dan kemudian mengulangnya secara terus menerus setiap harinya. Hasilnya, gelagat, pandangan, dan wawasan para tentara cenderung sama, berkat kaderisasi beberapa tahun saja. Juga dulu, jaman kuliah, saat ospek digelar. Pada saat itu betapa aku sangat merasa ada pandangan, wawasan, nilai-nilai yang dimasukkan secara paksa ke dalam ‘frame’ berpikirku, dan setelah dua semester, akhirnya akupun terbiasa. Kebenaran adalah apa yang Seniro(Senior Elektro-red) katakan dan perintahkan. Tak ada lagi protes, dan berharap semuanya cepat selesai.

Mungkinkah mbah Lah juga begitu? tak bisa lagi protes pada keadaan, tak bisa lagi menuntut pada kehidupan untuk sekedar menikmati peran lain? lalu akhirnya mbah Lah pun menyerah, menjalani saja dan berharap semuanya cepat selesai, yang sayangnya, berbeda dengan tentara yang punya pensiun, dan ospek yang hanya setahun, ’selesai’ bagi mbah Lah mungkin berarti tak lagi menikmati nafas.

Semoga ini salah. Semoga aku hanya melihat sedikit sisi dari mbah Lah saja, karena setauku pembantu lain tak seperti mbah Lah. Semoga ada sisi lain mbah Lah yang tak aku lihat dimana  dia menjadi orang tua yang bijaksana, sarat pengalaman pahit manisnya hidup.

semoga ini salah…

eh, aku juga nggak bisa mbayangin kalo misalnya sudah tua nanti, rambut putih, jalan nggak lancar,gigi gak lengkap,  tapi masih saja suka FS-an, ngisi testi lucu-lucu, chating gak jelas sumbu topiknya, nonton doraemon, dragon ball-z, maen WE….aduh!
*sambil dengan sigap mengemasi komik-komik conan, botol susu milkuat kecil, kemudian ketawa ala pahlawan bertopeng-nya sinchan :P*

Metro memang untuk Anda

November 27, 2006

Hari minggu kemarin aku mengamati sesuatu yang biasa tapi bagiku akhirnya jadi nggak biasa. Sesuatu itu adalah ulang tahun sebuah stasiun teve swasta bernama Metro TV (selanjutnya kusebut Metro aja-red). Biasa, karena sebagai sebuah stasiun teve, wajar kalo tiap tahunnya bakal mengemas acara-acara spesial di hari ulangtahunnya. Nggak biasa, karena berbeda dengan stasiun teve lain yang kuamati (tapi nggak betul-betul ngamati kok, cuman sepintas lalu) Metro justru menawarkan acara-acara yang jauh lebih bermutu daripada sekedar acara hura-hura. Sebenarnya aku nggak tau apakah hari minggu itu hari ultah Metro atau nggak, yang jelas acara hari itu masih masuk dalam serentetan acara spesial menyambut ultahnya.

Bagiku, mengutip analogi dari seuriueus band, bahwa stasiun teve juga manusia, punya rasa punya hati, maka Metro teve termasuk dalam kategori ‘dewasa’ dibanding rekan-rekan seprofesinya yang lain. Alih -alih mengedepankan konser-konser musik penuh goyangan segala posisi, Metro memilih menampilkan acara "Orang-orang yang mencintai Indonesia", yang bagiku sangat menggugah semangat. Juga mengangkat perbincangan tentang emansipasi wanita, ‘Hot News’ spesial, dan biografi Bill Gates menggantikan acara lawakan dan quiz ‘Anda Telpon Uang diTangan’ yang semakin musim. Juga tak ketinggalan acara perbincangan wakil presiden dengan pengusaha tionghoa yang sangat membuka wawasan (dikit sih, soalnya gak begitu ngerti..:P)

Satu lagi, Metro dengan berani memilih slogan yang menurutku sangat ‘menyentuh’ sekaligus ‘memotivasi’ yaitu "Save our Nation". Bandingkan dengan rekan-rekan stasiun lain yang memilih slogan-slogan yang lucu-lucu, seperti "makin asik aja" atau "memang untuk Anda" atau juga cukup satu kata yang nggak jelas maknanya seperti "Oke". Bagiku slogan Metro lebih mementingkan sisi kesesuaian dengan keadaan kita saat ini, Indonesia yang babak belur sana-sini, dan butuh pertolongan dari rakyatnya sendiri (lha wong negara lain nggak niat nolong kok, cuman ngutangin duit dengan pamrih lebih besar). Lagi-Lagi ini adalah bentuk kedewasaan dibanding yang lain, yang masih memrioritaskan dampak ekonomis dan kepopuleran dibalik pemilihan slogan.

Tapi nggak selamanya acara di stasiun teve lain itu bagus jelek. Banyak juga acara bermutu di stasiun teve lain. Nggak selamanya pula acara-acara di Metro itu bagus. Minimal aku jadi lebih nyadar kalau stasiun teve lain masih lebih fokus ke sisi entertainment ketimbang nilai yang lain. Minimal itu tercermin ketika acara-acara ulang tahun digelar. Metro, menurutku punya fokus lain, terutama sisi pembangunan bangsa yang diangkat, selain penyampai berita, penyambung dan penyampai opini massa. Akhirnya seperti halnya segala sesuatu di dunia ini yang serba berwarna, nggak mungkin kalau semua hal itu bagus dan baik, ada baik ada jelek, ada hitam ada kuning, ada mengkilat ada yang burem. Dan untuk sesuatu yang lebih baik dibanding yang lain, layaklah kita memberikan penghargaan. Bravo Metro!