Kita kadang merasakan pentingnya suatu barang justru ketika barang itu nggak ada. Tapi pepatah itu nggak cocok dengan barang bernama handphone (HP). Minimal buatku akhir-akhir ini. Aku jelas merasakan barang itu sangat penting, karena tiap waktu kutunggu deringan nada panggilnya, siapa tahu itu telpon dari perusahaan tempatku mendaftar jadi karyawan. Gara-gara profesi sebagai jobseeker itu pulalah, HP ku selalu berdomisili tak jauh dari diriku. keberadaan HP tiba-tiba menjadi sangat penting sebulan ini. Di benda mungil itulah, kugantungkan harapan akan datangnya kabar gembira yang bisa jadi mengubah alur hidupku. Hampir tiap jam kusempatkan menyentuh benda itu, siapa tahu aku melewatkan sesuatu. Intinya, HP itu penting, penting, penting…justru saat dia ada. 

Aku tak habis pikir, bagaimana bisa ada orang yang begitu tega memisahkanku dari benda kecil itu di masa-masa sulit seperti ini. Seperti halnya Cinta, maling pun bisa saja buta dan tak mengenal logika. Atau memang itulah fitrah maling pada umumnya.

Sebenarnya aku bingung apakah harus memuji kelihaian maling ini atau mengumpati keteledoranku sendiri. Asal tau aja, ini HP kelimaku yang ilang. Sedikit menilik sejarah, HP keempatku pun raib dengan cara yang sama, di kamar yang sama, di samping tempat tidur yang sama, di jam yang nggak jauh berbeda. Di kedua kejadian itu, sebenarnya aku pun ada di tempat kejadian perkara, tertidur dengan pulasnya.

Yang pasti, semua ada hikmahnya. Dan baiklah, aku pun setuju kalo faktor kecerobohan pribadi yang berperan besar dalam hilangnya HP ku kali ini. Aku memang ceroboh, tiga kali kehilangan Kartu Tanda mahasisawa, Tiga kali kehilangan SIM dan STNK, bahkan aku juga pernah menghilangkan STNK sementara pengganti STNK asli yang belum jadi dibikin. Lima kali kehilangan HP, tiga kali dicuri, dan dua kali jatuh pas naek motor :D.

"bahkan keledaipun tak akan jatuh di tempat yang sama untuk kedua kalinya" hahaha

okelah, mungkin aku lebih bodoh dari keledai, tapi keledai juga kan nggak bisa bertanggung jawab dengan bikin surat laporan kehilangan ke polisi, trus berangkat ke galeri indosat buat mblokir nomor yang ilang…:P

sudahlah,
hari ini melelahkan

    

Nulis nulis

March 15, 2006

Akhirnya setelah sekian lama, tergerak juga hati ini untuk nulis-nulis di kolom pribadi yang namanya blog ini, hehehe. Bukan apa-apa, emang lagi "jarang" kerjaan. Lumayanlah, udah satu setengah bulan jadi jobseeker, kerjaan per hari paling mondar-mandir ke cdc (penyalur tenaga kerja di kampus), nge-browse jobsdb.com, nyari info ke temen, nanya-nanya standar gaji, dan yang paling kubenci : pake pakaian rapi plus dasi buat ikutan psikotes atau wawancara, puehh…

Alur hidup memang aneh, kadang kita harus menjalani satu sesi hidup untuk sadar dan memulai sesi yang lain, contohnya, aku  harus merasakan bagaimana bosennya jadi joobseeker dulu barulah jadi pingin nulis-nulis blog kayak gini… :D(apaan sih?)

Tapi pada dasarnya, dari hati yang terdalam, aku sadar bahwa budaya nulis itu penting. Minimal kalo kita nulis blog, masih ada potongan-potongan pengalaman yang bisa dijadiin cermin, entah kapan, di masa depan :).  Dan siapa tau blog yang kita buat jadi terkenal, misalanya, kita jadi korban pembunuhan, nah, jadinya banyak yang baca tuh ntar :P, dan pasti membantu pak polisi dalam penyidikan, juga mengobati kerinduan keluarga yang ditinggalkan. Dan tentu saja, saya persilahkan rekan-rekan sekalian berkhayal demikian, kalo aku, tentu saja dengan segenap jiwa berdo’a tidak mengalami hal seperti itu. 

Akhirnya setelah prolog yang singkat dan gak jelas ini, penulis mengucapkan, selamat datang di blog saya, kalo kata keset-keset di hotel : " welcome" lah. Selamat menikmati  warna-warni cahaya.